Maret 2024 merupakan bulan dengan hari raya keagamaan terbanyak tahun ini. Pada bulan ini, siswa rata-rata hanya bersekolah empat dari lima hari karena libur. Dimulai dari tahun baru Hindu yaitu Hari Raya Nyepi pada tanggal 11.thDan bulan Maret ini diakhiri dengan Jumat Agung dan Paskah yang jatuh pada tanggal 29th. And the month ended with Good Friday and Easter that falls on the 29th dan 31 Maret.st Maret.
Selama beberapa tahun terakhir, SMA Pembangunan Jaya Sidoarjo telah menyatukan perayaan keagamaan tersebut melalui serangkaian kegiatan dalam program yang diberi nama “Religious Fest”. SMA Pembangunan Jaya bangga memiliki keragaman agama dan kepercayaan di kalangan siswanya. Karena lingkungan komunitas sekolah yang penuh hormat serta kemampuannya untuk mendukung setiap keyakinan siswanya, para siswa dapat dengan bebas mengekspresikan kepercayaan mereka sepenuhnya. Dan “Religious Fest” ini adalah salah satu wadahnya.
Rangkaian perayaan dimulai dengan pembelajaran outdoor dan live in bagi siswa kelas 10.th Para siswa/i mengunjungi pesantren, panti asuhan, dan panti jompo setempat. Mereka melakukan berbagai kegiatan antara lain bakti sosial, ibadah, dan mini live-in. The Arc meminta beberapa siswa kelas 10th untuk menceritakan kisah mereka selama program ini, berikut penuturan mereka :
Jacinda ’26, yang mengunjungi pesantren, membagikan perasaan kagumnya terhadap santri(wati) yang dia lihat disana, “jadi kita ke pesantren nya waktu hari senin tanggal 18 maret. nama tempatnya tuh pondok pesantren “Al-Falah”. terus untuk kegiatan yang pertama kali kita lakuin waktu udah sampai disana, kita dikumpulin ke pendopo yang ada di tengah-tengah tempat itu karena bakal ada penyampaian materi dari ustad yang berasal dari pondok pesantren tersebut, disitu kita dikasih materi tentang puasa. jadi ustad tersebut ngebahas tentang puasa lebih mendalam. setelah sesi dari ustad nya memberikan materi tentang puasa, kita diajak untuk ke makam pendiri pondok pesantren nya, disitu kita diajak buat jalan ke makam nya. terus habis dari tempat makam nya kita diajak jalan sejauh 600/700 meter ke tempat pondok pesantren lain nya. waktu udah sudah sampai kita diajak masuk lebih dalem, dan disitu itu di kasih tunjuk kalau ada rumah dari pendiri NU yang masih di jaga disana. sampai ada adzan dhuhur, akhirnyalah kita sholat berjamaah di tempat itu, jadi memang udah ada tempat yang di kosongin buat sholat berjamaah. nah disini yang bikin aku takjub tuh santriwati disana bener-bener yang apaya sebutan nya, pokonya begitu ngedenger suara adzan langsunf buru-buru ngambil wudhu dan langsung ngumpul buat sholat berjamaah, keren sih.”, kemudian Jacinda juga menceritakan tentang bagaimana santri dan santriwati disana sangat paham tentang bahasa arab dan kemampuan mereka untuk mencatat arti dari Al – Quran dengan cepat, dan hal tersebut sangat dikagumi Jacinda. Jacinda menjelaskan bahwa rangkaian kegiatan ini berlanjut hingga sangat larut malam dan dilaksanakan kembali pada hari selanjutnya.
Alberth ’26 dan Nenggo ’26 menceritakan kegiatan mereka selama berada di panti. Alberth menjelaskan kegiatan mereka, “Selama kegiatan penginapan yang biasa disebut live in atau retreat di Religious Fest. Yang Agama Nasrani baik itu Kristen Protestan atau Kristen Katolik, pergi untuk menginap di 4 Panti Asuhan atau Pondok dengan dibagi 4 kelompok. Untuk salah satunya adalah kelompok kami yaitu kelompok Pondok Pemulihan Efrata, yang anggotanya adalah Alberth, Nenggo, Matthew, Eliza, Kezia, Inori, Acca. Tempat ini bukan seperti panti, namun lebih seperti tempat rehabilitasi bagi saudara-saudara kami yang memiliki gangguan jiwa atau biasa disebut ODGJ, mereka menyebutnya sebagai Saudara Layan. Ada banyak kegiatan yang kami lakukan. Contohnya seperti ikut mengawasi kegiatan-kegiatan saudara layan, beribadah bersama, makan bersama, memasak, menonton film, dan lainnya”. Kemudian Alberth melanjutkan, “Tentu dari kegiatan ini kami dapat mempelajari banyak hal mengenai saudara-saudara kami yang memiliki kondisi tersebut. Kami juga dapat lebih bersyukur karena memiliki kondisi yang lebih cukup dibanding beberapa orang disana, dan semoga karena kegiatan ini semuanya dapat lebih peduli dengan orang-orang lain yang memiliki kondisi tersebut di Pondok atau Panti Asuhan lainnya”. Sedangkan, begini pandangan Nenggo mengenai kegiatan tersebut, “Bisa dikatakan life changing. Punya kesempatan untuk berkegiatan di tempat yang orang jarang ketahui dan melayani orang yang berkebutuhan adalah pengalaman yang gak akan terlupakan”.
Setelah para siswa pulang dari perjalanan singkat mereka, kegiatan selanjutnya segera menyusul. SMA Pembangunan Jaya mengundang 5 tokoh agama yang berbeda sekaligus untuk berdiskusi dengan siswa/i tentang suatu mosi dipandang dari perspektif agama yang berbeda - beda. Mosi tahun ini adalah tentang bagaimana keimanan dijadikan sebagai perisai resilier dalam jiwa seseorang. Bagian dari program ini dimaksudkan untuk menunjukkan dan menyadarkan para siswa untuk merasakan indahnya toleransi antar umat beragama di negara Indonesia yang majemuk.
Selama dua minggu Festival Keagamaan ini juga, setiap hari sepulang sekolah, para siswa dibagi ke dalam kelompok-kelompok kecil di kelas untuk melakukan amalan keagamaan bersama guru yang ditugaskan.
Religious Fest ini diakhiri dengan acara akhir yang merupakan perayaan puncak. Pada hari Senin tanggal 1 Aprilst 2024, siswa berangkat ke sekolah pada pukul 11.00 dan pulang pada pukul 20.00. Perayaan selama sembilan jam ini diisi dengan penampilan keagamaan oleh para siswa dari berbagai kelas. Penampilan ini diisi dengan berbagai musik, tarian, ceramah, dan bahkan drama komedi teatrikal. Karena ini adalah bulan suci Ramadhan, para siswa/i berbuka puasa bersama dan makan malam bersama teman-temannya yang berbeda agama juga. Dalam perayaan tersebut, para siswa juga memberikan bakti sosial kepada anak yatim dan makan malam di sekolah bersama mereka. Kemudian, malam itu diakhiri dengan Sholat Tarawih berjamaah.
Rangkaian kegiatan yang digelar SMA Pembangunan Jaya Sidoarjo ini sukses mendekatkan persaudaraan siswa-siswinya. Pada Religious Fest ini, para siswa benar-benar bisa merasakan dan melihat lebih jelas apa sebenarnya arti hidup di negara yang penuh dengan keberagaman agama.
Pimpinan Redaksi : Syakira Azzah K.S.
Jurnalis : Syakira Azzah K.S.
Editor & Translator : Syakira Azzah K. S.
Photo : Nenggo ‘26


Tinggalkan Balasan